Objek Wisata Tenganan Bali Yang Ramai Dikunjungi

Berkunjung ke suatu daerah, Anda tentu tidak ingin melewatkan mengenal dan mengetahui adat istiadat penduduk setempat bukan? Begitu pula saat berkunjung ke pulau Bali. Berlibur di pulau Bali, tanpa mengenal dan mengetahui adat istiadat penduduk Bali Asli tentu akan terasa hampa dan kurang sempurna. Berlibur di pulau Bali, pastikan Anda berkunjung ke desa Tenganan, yaitu salah satu desa di pulau Bali yang masih sangat kental dengan adat istiadat, kehidupan dan pemandangan eksotis khas pulau Bali.

Tenganan merupakan salah satu objek wisata berupa desa yang dihuni oleh penduduk asli pulau Bali atau yang biasa disebut Bali Age. Di tengah era modernisasi, mempertahankan adat istiadat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhka perjuangan yang kuat untuk mempertahankannya. Tetapi tidak untuk penduduk asli pulau Bali di desa Tenganan. Dengan sangat bangga, penduduk Bali Age di desa Tenganan terus mempertahankan dan menunjukkan tradisi dan adat istiadat yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Berkunjung ke desa Tenganan, Anda akan melihat kehidupan masyarakat yang masih sangat kental dengan adat istiadat mereka.

Berkunjung ke desa Tenganan, mungkin Anda akan bertanya-tanya mengapa  deretan rumah-rumah yang berada di sana memiliki ukuran yang sama, bahkan luas pekarangannyapun sama. Inilah uniknya kehidupan penduduk Bali Age di desa Tenganan yang sangat menjunjung tinggi kesamaan hak antar sesama penduduk. Berkunjung ke desa Tenganan, Anda akan mendapatkan sambutan yang sangat hangat oleh para penduduk yang membuat Anda menjadi betah dan ingin berlama-lama di desa Tenganan.

Desa Tenganan terletak di kabupaten Karangasem atau sekitar 70 km dari kota Denpasar, Bali. Desa ini menjadi sangat menarik bagi wisatawan, bukan hanya karena kehidupan penduduknya yang unik, melainkan juga kerena pemandangannya yang indah dan eksotis. Desa Tenganan diapit oleh dua bukit yang menjadikan pemandangannya sangat indah dan mempesona. Selain itu, udaranyapun bersih dan sejuk yang tentu saja menambah kenyamanan Anda selama berlibur. Mata pencaharian penduduk desa Tenganan adalah bertani dan menekuni usaha kerajinan. Kain Gringsing merupakan salah satu hasil kerajinan khas desa Tenganan yang terbukti bernilai seni tinggi dan patut untuk dibanggakan.

Dari sekian banyak pesona yang disuguhkan oleh desa Tenganan, Ritual Geget adalah salah satu atraksi yang paling ditunggu-tunggu wisatawan. Perang Geget adalah salah satu ritual unik yang dilakukan penduduk desa Tenganan berupa perang pandan yang dilaksanakan setiap bulan Kalima atau Sasih. Saat ritual ini diselenggarakan, dua pemuda akan bertarung damai dengan menggunakan seikat pandan yang dicambukkan atau digoreskan pada lawannya. Ritual perang pandan biasa menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.

Wisata Religi ke Makam Batu Layar di Lombok

Lombok menyimpan destinasi tempat religi yakni makam Batu Layar yang berdasarkan kepercayaan orang setempat, ini menjadi makam keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Namun, ada juga yang mengatakan bahwasanya makam itu menjadi tempat peristirahatan untuk tokoh Islam yang berkebangsaan Baghdad yang bernama Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami.

Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami dipercayai sebagai salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Ada pendapat yang lain menyebutkan nama tokoh Baghdad yang datang bernama Syeh Syayid Muhammad Al Bagdadi. Entah mana yang benar namun alkisah ia datang ke Lombok untuk melakukan syiar agama. Setelah agama Islam sempurna, ia ingin kembali ke negara asalnya. Saat akan pulang ia diantar ke pinggir pantai Batu Layar oleh para muridnya. Setelah tiba di pinggir pantai, ia duduk diatas batu yang menyerupai sebuah batu. Tak seberapa lama datanglah hujan lebat disertai dengan angin dan peting. Pada saat itulah Syeh Sayid menghilang dan yang tertinggal hanyalah seonggok batu tersebut. Cerita itu pun kemudian melahirkan kisah bahwa yang dimakamkan di makam Batu Layar bukanlah jasad Syeh Sayid namun kopiah dan sorban yang ia tinggalkan. Itu sebabnya mengapa makam ini disebut sebagai malam keramat dan sering digunakan sebagai tempat untuk membayar nazar. Yang dimaksud nazar adalah janji yang biasanya diucapkan oleh seseorang sebagai bentuk permohonan jika maksudnya terkabul. Beberapa nazar yang sering diungkapkan oleh para peziarah makam Batu Layar adalah nazar akan berziarah ke makam ini jika keinginan mereka berangkat haji atau umroh tercapai. Itu mengapa saat menjelang musim haji, makam Batu Layar ramai dikunjungi mereka yang akan berangkat ke tanah suci.

Makam Batu Layar mencapai puncak ramai saat perayaan lebaran topat, yakni lebaran yang diselenggarakan tepat 7 hari setelah Idul Fitri. Lebaran topat bahkan sudah menjadi kegiatan rutin yang diselengarakan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Diawali dengan tradisi Nyangkar oleh Wakil Bupati Lombok. Dalam tradisi Nyangkar terdapat prosesi pengambilan air lingkuk emas untuk bejanjam. Bejanjam adalah membasuh wajah anah-anak dengan harapan kelak mereka menjadi anak yang saleh. Sedangkan air lingkuk emas diambil dari kaki bukit Batu Layar yang keberadaannya diketahui sebelum zaman Belanda. Sebelum mengambil air ini ada beberapa sesajen yang harus disiapkan yakni penginang pidade yang diisi tokok lekes, jembung kuning tempat ceret, beras kuning, empok-empok dan kejamas. Setelah itu ada proses nguris rambut yakni memotong rambut bayi.